Minggu, 30 Maret 2014

Bilirubin

Metabolisme bilirubin
80-85% bilirubin berbentuk pecahan eritrosit tua dalam system monosit makrofag.  15-20% berasal dari destruksi sel eritrosit dalam sumsum tulang (hematopoiesis tak efektif) dan dari hemoprotein lain, terutama dari hati. Katabolisme hemoglobin di limpa, globin dipisahkan dari heme, lalu heme diubah menjadi biliverdin. Lalu biliverdin membentuk bilirubin tak terkonjugasi yang larut dalam lemak , tidak larut dalam air, tidak dapat diekskresikan dalam empedu dan urin. Bilirubin berikatan dengan albumin dalam suatu kompleks larut air, lalu diangkut oleh darah ke sel hati. Metabolisme bilirubin berlangsung dalam 3 langkah: ambilan (sel hati memerlukan protein Y dan Z), konjugasi (bilirubin dengan asam glukoronat dikatalisis enzim glukoronil transferase dalam reticulum endoplasma), ekskresi (transport bilirubin tak terkonjugasi melalui membrane sel ke empedu melalui proses aktif, tapi tidak diekskresikan lewat empedu kecuali proses fotooksidasi dan fotoisomerisasi). (Price and Wilson, 2006).
Sumber : Price, Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC.
Proses Metabolisme Lemak
Hepar tidak hanya membentuk / mensintesis lemak tapi sekaligus mengadakan katabolisis asam lemak Asam lemak dipecah menjadi beberapa komponen :
1.                  Senyawa 4 karbon – KETON BODIES
2.                  Senyawa 2 karbon – ACTIVE ACETATE (dipecah menjadi asam lemak dan gliserol)
3.                  Pembentukan cholesterol
4.                  Pembentukan dan pemecahan fosfolipid
Hepar merupakan pembentukan utama, sintesis, esterifikasi dan ekskresi cholesterol. Di mana serum Cholesterol menjadi standar pemeriksaan metabolisme lipid
Metabolisme lemak dimulai ketika makanan dalam bentuk kimus telah sampai pada duodenum. Pada duodenum akan terjadi ekskresi kelenjar oleh pankreas melalui ductus pancreaticus Wirsungi dan ekskresi empedu dari vesica fellea melalui ductus choledocus yang kemudian akan masuk ke duodenum melalui Ampulla Vateri. Ekskresi enzim dari pankreas-lah yang mengadung enzim untuk memetabolisme lemak, seperti lipase pankreas, kolesterol esterase, dan fosfolipase. Namun, kerja dari enzim ini tidaklah sendirian, melainkan akan dibantu oleh cairan empedu sebagai katalisator. Secara umum fungsi dari ekskresi cairan empedu dan pankreas adalah sebagai berikut,
Sekresi Pankreas:
-Lipase pankreas                       : merubah lemak menjadi asam lemak dan monogliserida
-Kolesterol esterase                   : menghidrolisis ester kolesterol
-Fosfolipase                               : melepas asam lemak dari fosfolipid
-Cairan Empedu                         : Bilirubin
Bilirubin akan diekskresi dalam bentuk sterkobilin pada feses dan urobilin pada urin yang masing-masing akan memberikan warna kuning kecoklatan.
-Garam empedu
Garam empedu memiliki fungsi sebagai emulsifier dari lemak, menurunkan tegangan permukaan, dan membantu pencernaan lemak. 97% dari pencernaan lemak dibantu oleh cairan empedu.
-Kolesterol
Cairan empedu merupakan salah satu jalur terbesar untuk mengekskresikan kolesterol yang terdapat dalam tubuh.
-Lesitin
Merupakan salah satu jenis fosfolipid yang ikut diekskresikan ke duodenum.
Selain itu, proses metabolism lemak dilanjutkan dengan adanya enzim lipase intestinum yang disekresikan oleh sel-sel enterosit dari intestinum bersama dengan mucus yang disekresi oleh sel goblet.
Setelah asam lemak dipecah, maka akan terabsorbsi oleh mikrovili sel epitel intestinum. Ada terdapat dua jalur penyerapan yang dialami oleh asam lemak, yaitu:
·        Asam lemak dan monogliserida akan diambil oleh reticulum endoplasma halus yang kemudian dibentuk menjadi Trigislerida. Trigliserida akan terbawa oleh vasa recta beredar melalui ducus lymphaticus menuju ke nodulus lymphaticus toraksicus. Setelah itu maka setelah itu akan masuk ke percabangan vena subclavia dan jugularis.
·        Sebagian asam lemak rantai pendek dan sedang, akan masuk ke kapiler darah.
Kedua jalur ini akan bermuara ke sel hepar atau sel lemak untuk disimpan. (Guyton, 2007).

Sumber : Guyton A.C, J.E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta: EGC.
Komposisi batu empedu
1.      Batu pigmen: garam kalsium dan salah 1 dari keempat anion (bilirubinat, karbonat, fosfat, asam lemak rantai panjang).  Berukuran kecil, multiple, berwarna hitam kecoklatan. Hitam berkaitan dengan hemolisis kronis, coklat berkaitan dengan infeksi empedu kronis.
2.       Batu kolestrol: besar, soliter, oval, kuning pucat, mengandung kalsium dan pigmen.
3.      Batu kolestrol campuran: gambaran batu pigmen dan kolestrol, majemuk, coklat tua. (Price and Wilson, 2006).
Sumber : Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC
DD
Hepatitis A
Hepatitis A adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh kotoran/tinja penderita; biasanya melalui makanan (fecal - oral), bukan melalui aktivitas seksual atau melalui darah. Hepatitis A paling ringan dibanding hepatitis jenis lain (B dan C). Sementara hepatitis B dan C disebarkan melalui media darah dan aktivitas seksual dan lebih berbahaya dibanding Hepatitis A
Penularan virus Hepatitis A atau Hepatitis Virus tipe A (HVA) melalui fecal oral, yaitu virus ditemukan pada tinja. Virus ini juga mudah menular melalui makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi, juga terkadang melalui hubungan seks dengan penderita
Sumber : Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC
Epidemiologi dan faktor resiko
Sering ditemukan di Amerika Serikat mengenai 20% penduduk dewasa, jarang terjadi pada penduduk usia dua decade pertama. Insiden paling tinggi pada orang Amerika asli, orang kulit putih, orang Afro Amerika. Lebih sering terjadi pada wanita. Faktor resiko yaitu pada wanita yang meminum obat kontrasepsi oral, penderita diabetes, sirosis hati, pancreatitis, kanker kandung empedu, reseksi ileum, multiparitas. (Price and Wilson, 2006).
Sumber : Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan batu empedu sesuai lokasi
Lokasi batu empedu bisa bermacammacam yakni di kandung empedu, duktus sistikus, duktus koledokus, ampulla Vateri, di dalam hati. Batu di dalam kandung empedu yang tidak memberikan keluhan atau gejala gejala (asimtomatik) dibiarkan saja. Bilamana timbul gejala, biasanya karena batu tersebut migrasi ke leher kandung empedu atau masuk ke duktus koledokus, maka batu ini harus dikeluarkan. Migrasi batu ke leher kandung empedu akan menyebabkan obstruksi duktus sistikus. Keadaan ini mengakibatkan terjadinya iritasi kimiawi mukosa kandung empedu oleh cairan empedu yang tertinggal sehingga terjadilah kolesistitis akut atau kronis, tergantung dari beratnya perubahan pada mukosa. Pada pasien dengan batu kandung empedu yang simtomatik ini dapat dilakukan kolesistektomi secara konvensional ataupun dengan cara laparoskopi.
Batu empedu yang terjepit di duktus sistikus, di muara duktus sistikus pada duktus koledokus, dapat menekan duktus koledokus atau duktus hepatikus komunis sehingga mengakibatkan obstruksi (sindroma Mirizzi). Batu ini harus dikeluarkan dengan cara operasi. Bila tidak dikeluarkan akan menyebabkan obstruksi dengan penyulit seperti kolangitis atau sepsis dan ikterus obstruktif yang bisa mengakibatkan gagal hati atau sirosis bilier. Batu koledokus harus dikeluarkan karena akan mengakibatkan obstruksi bilier sehingga dapat mengganggu fungsi hati sampai menimbulkan gagal hati. Selain dari pada itu aliran bilier yang tidak lancar dapat menimbulkan penyulit kolangitis - sepsis. Pengeluaran batu koledokus ini dapat dilakukan dengan operasi secara konvensional atau dengan cara melalui endoskopi yakni dengan sfingterotomi endoskopik dan ekstraksi batu dengan basket Dormia.
Batu empedu intrahepatik atau hepatolitiasis adalah batu empedu yang berada pada saluran empedu intrahepatik. Batu intrahepatik didapatkan pada 20% kasus dengan batu empedu. Masalah batu intrahepatik berbeda sekali dengan batu empedu yang lain karena penatalaksanaannya secara bedah sulit; kadang-kadang diperlukan operasi berulang-ulang karena sering kambuh dan pada akhirnya pasien seringkali menderita karena kerusakan hati akibat ikterus obstruktif yang lama, kolangitis, abses hati multipel dan sepsis. Bila batu intrahepatik kecil dan jumlahnya 1 atau 2 buah saja dan terletak di distal, bisa dicoba dikeluarkan dengan basket Dormia melalui endoskopi. Bila banyak diperlukan tindakan operasi yang berbeda dengan operasi-operasi batu empedu yang lain.

Sumber : Greenbergen N.J., Isselbacher K.J. Diseases of the Gallbladder and Bile Ducts, dari Harrison’s Princi-ples of Internal Medicine, Edisi ke-14, hal.1725-1736, Editor Fauci dkk. Mc Graw Hill, 1998

Komplikasi
Sebuah batu empedu pada saluran empedu dapat memberikan dampak pada bagian distal, yaitu Ampula Vater, di mana ductus choledocus dan ductus pancreaticus bergabung sebelum masuk ke duodenum. Obstruksi aliran empedu oleh batu pada titik kritis ini dapat menyebabkan nyeri abdomen dan ikterik. Empedu Stagnan di atas sebuah batu yang menyumbat aliran empedu sering menjadi terinfeksi, dan bakteri dapat menyebar dengan cepat kembali sistem duktal ke hati dan menyebabkan infeksi yang mengancam jiwa yang disebut ascending cholangitis. Obstruksi ductus pancreaticus oleh batu empedu dalam ampula Vater juga dapat memicu aktivasi enzim pencernaan pankreas untuk mencerna pankreas itu sendiri, menyebabkan pankreatitis akut (Heuman, 1997).

Sumber : Heuman DM, Moore EL, Vlahcevic ZR. Pathogenesis and dissolution of gallstones. In: Zakim D, Boyer TD, eds. Hepatology: A Textbook of Liver Disease. 1996. 3rd ed. Philadelphia, Pa: WB Saunders; 1996:376-417.