Metabolisme
bilirubin
80-85% bilirubin berbentuk pecahan eritrosit tua dalam
system monosit makrofag. 15-20% berasal
dari destruksi sel eritrosit dalam sumsum tulang (hematopoiesis tak efektif)
dan dari hemoprotein lain, terutama dari hati. Katabolisme hemoglobin di limpa,
globin dipisahkan dari heme, lalu heme diubah menjadi biliverdin. Lalu
biliverdin membentuk bilirubin tak terkonjugasi yang larut dalam lemak , tidak
larut dalam air, tidak dapat diekskresikan dalam empedu dan urin. Bilirubin
berikatan dengan albumin dalam suatu kompleks larut air, lalu diangkut oleh
darah ke sel hati. Metabolisme bilirubin berlangsung dalam 3 langkah: ambilan
(sel hati memerlukan protein Y dan Z), konjugasi (bilirubin dengan asam
glukoronat dikatalisis enzim glukoronil transferase dalam reticulum
endoplasma), ekskresi (transport bilirubin tak terkonjugasi melalui membrane
sel ke empedu melalui proses aktif, tapi tidak diekskresikan lewat empedu
kecuali proses fotooksidasi dan fotoisomerisasi). (Price and Wilson, 2006).
Sumber : Price, Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC.
Proses Metabolisme Lemak
Hepar tidak hanya membentuk /
mensintesis lemak tapi sekaligus mengadakan katabolisis asam lemak Asam lemak
dipecah menjadi beberapa komponen :
1.
Senyawa 4 karbon – KETON BODIES
2.
Senyawa 2 karbon – ACTIVE ACETATE (dipecah
menjadi asam lemak dan gliserol)
3.
Pembentukan
cholesterol
4.
Pembentukan dan pemecahan fosfolipid
Hepar merupakan pembentukan
utama, sintesis, esterifikasi dan ekskresi cholesterol.
Di mana serum Cholesterol menjadi
standar pemeriksaan metabolisme lipid
Metabolisme lemak dimulai
ketika makanan dalam bentuk kimus telah sampai pada duodenum. Pada duodenum
akan terjadi ekskresi kelenjar oleh pankreas melalui ductus pancreaticus
Wirsungi dan ekskresi empedu dari vesica fellea melalui ductus choledocus yang
kemudian akan masuk ke duodenum melalui Ampulla Vateri. Ekskresi enzim dari
pankreas-lah yang mengadung enzim untuk memetabolisme lemak, seperti lipase
pankreas, kolesterol esterase, dan fosfolipase. Namun, kerja dari enzim ini
tidaklah sendirian, melainkan akan dibantu oleh cairan empedu sebagai
katalisator. Secara umum fungsi dari ekskresi cairan empedu dan pankreas adalah
sebagai berikut,
Sekresi Pankreas:
-Lipase pankreas : merubah lemak menjadi asam
lemak dan monogliserida
-Kolesterol esterase : menghidrolisis ester
kolesterol
-Fosfolipase : melepas asam
lemak dari fosfolipid
-Cairan Empedu : Bilirubin
Bilirubin akan diekskresi
dalam bentuk sterkobilin pada feses dan urobilin pada urin yang masing-masing
akan memberikan warna kuning kecoklatan.
-Garam empedu
Garam empedu memiliki fungsi
sebagai emulsifier dari lemak, menurunkan tegangan permukaan, dan membantu
pencernaan lemak. 97% dari pencernaan lemak dibantu oleh cairan empedu.
-Kolesterol
Cairan empedu merupakan salah
satu jalur terbesar untuk mengekskresikan kolesterol yang terdapat dalam tubuh.
-Lesitin
Merupakan salah satu jenis
fosfolipid yang ikut diekskresikan ke duodenum.
Selain itu, proses metabolism
lemak dilanjutkan dengan adanya enzim lipase intestinum yang disekresikan oleh
sel-sel enterosit dari intestinum bersama dengan mucus yang disekresi oleh sel
goblet.
Setelah asam lemak dipecah,
maka akan terabsorbsi oleh mikrovili sel epitel intestinum. Ada terdapat dua
jalur penyerapan yang dialami oleh asam lemak, yaitu:
·
Asam lemak dan monogliserida akan diambil oleh
reticulum endoplasma halus yang kemudian dibentuk menjadi Trigislerida.
Trigliserida akan terbawa oleh vasa recta beredar melalui ducus lymphaticus
menuju ke nodulus lymphaticus toraksicus. Setelah itu maka setelah itu akan
masuk ke percabangan vena subclavia dan jugularis.
·
Sebagian asam lemak rantai pendek dan sedang,
akan masuk ke kapiler darah.
Kedua jalur ini akan bermuara ke sel hepar
atau sel lemak untuk disimpan. (Guyton, 2007).
Sumber : Guyton A.C, J.E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta: EGC.
Komposisi batu
empedu
1.
Batu pigmen: garam kalsium dan salah 1 dari keempat anion
(bilirubinat, karbonat, fosfat, asam lemak rantai panjang). Berukuran kecil, multiple, berwarna hitam
kecoklatan. Hitam berkaitan dengan hemolisis kronis, coklat berkaitan dengan
infeksi empedu kronis.
2.
Batu kolestrol: besar,
soliter, oval, kuning pucat, mengandung kalsium dan pigmen.
3.
Batu kolestrol campuran: gambaran batu pigmen dan kolestrol,
majemuk, coklat tua. (Price and Wilson, 2006).
Sumber :
Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC
DD
Hepatitis A
Hepatitis A adalah suatu
penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebarkan oleh kotoran/tinja
penderita; biasanya melalui makanan (fecal - oral), bukan melalui aktivitas seksual
atau melalui darah. Hepatitis A paling ringan dibanding hepatitis jenis lain (B
dan C). Sementara hepatitis B dan C disebarkan melalui media darah dan
aktivitas seksual dan lebih berbahaya dibanding Hepatitis A
Penularan virus Hepatitis A
atau Hepatitis Virus tipe A (HVA) melalui fecal oral, yaitu virus ditemukan
pada tinja. Virus ini juga mudah menular melalui makanan atau minuman yang
sudah terkontaminasi, juga terkadang melalui hubungan seks dengan penderita
Sumber :
Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC
Epidemiologi
dan faktor resiko
Sering ditemukan di Amerika
Serikat mengenai 20% penduduk dewasa, jarang terjadi pada penduduk usia dua
decade pertama. Insiden paling tinggi pada orang Amerika asli, orang kulit
putih, orang Afro Amerika. Lebih sering terjadi pada wanita. Faktor resiko
yaitu pada wanita yang meminum obat kontrasepsi oral, penderita diabetes,
sirosis hati, pancreatitis, kanker kandung empedu, reseksi ileum, multiparitas.
(Price and Wilson, 2006).
Sumber :
Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan batu empedu
sesuai lokasi
Lokasi batu empedu bisa bermacammacam
yakni di kandung empedu, duktus sistikus, duktus koledokus, ampulla Vateri, di
dalam hati. Batu di dalam kandung empedu yang tidak memberikan keluhan atau
gejala gejala (asimtomatik) dibiarkan saja. Bilamana timbul gejala, biasanya karena
batu tersebut migrasi ke leher kandung empedu atau masuk ke duktus koledokus,
maka batu ini harus dikeluarkan. Migrasi batu ke leher kandung empedu akan
menyebabkan obstruksi duktus sistikus. Keadaan ini mengakibatkan terjadinya
iritasi kimiawi mukosa kandung empedu oleh cairan empedu yang tertinggal
sehingga terjadilah kolesistitis akut atau kronis, tergantung dari beratnya
perubahan pada mukosa. Pada pasien dengan batu kandung empedu yang simtomatik
ini dapat dilakukan kolesistektomi secara konvensional ataupun dengan cara
laparoskopi.
Batu empedu yang terjepit di
duktus sistikus, di muara duktus sistikus pada duktus koledokus, dapat menekan duktus
koledokus atau duktus hepatikus komunis sehingga mengakibatkan obstruksi
(sindroma Mirizzi). Batu ini harus dikeluarkan dengan cara operasi. Bila tidak
dikeluarkan akan menyebabkan obstruksi dengan penyulit seperti kolangitis atau
sepsis dan ikterus obstruktif yang bisa mengakibatkan gagal hati atau sirosis
bilier. Batu koledokus harus dikeluarkan karena akan mengakibatkan obstruksi bilier
sehingga dapat mengganggu fungsi hati sampai menimbulkan gagal hati. Selain
dari pada itu aliran bilier yang tidak lancar dapat menimbulkan penyulit
kolangitis - sepsis. Pengeluaran batu koledokus ini dapat dilakukan dengan
operasi secara konvensional atau dengan cara melalui endoskopi yakni dengan
sfingterotomi endoskopik dan ekstraksi batu dengan basket Dormia.
Batu empedu intrahepatik
atau hepatolitiasis adalah batu empedu yang berada pada saluran empedu
intrahepatik. Batu intrahepatik didapatkan pada 20% kasus dengan batu empedu. Masalah
batu intrahepatik berbeda sekali dengan batu empedu yang lain karena
penatalaksanaannya secara bedah sulit; kadang-kadang diperlukan operasi
berulang-ulang karena sering kambuh dan pada akhirnya pasien seringkali
menderita karena kerusakan hati akibat ikterus obstruktif yang lama,
kolangitis, abses hati multipel dan sepsis. Bila batu intrahepatik kecil dan jumlahnya
1 atau 2 buah saja dan terletak di distal, bisa dicoba dikeluarkan dengan
basket Dormia melalui endoskopi. Bila banyak diperlukan tindakan operasi yang
berbeda dengan operasi-operasi batu empedu yang lain.
Sumber : Greenbergen N.J., Isselbacher K.J. Diseases
of the Gallbladder and Bile Ducts, dari Harrison’s Princi-ples of Internal Medicine,
Edisi ke-14, hal.1725-1736, Editor Fauci dkk. Mc Graw Hill, 1998
Komplikasi
Sebuah batu empedu pada saluran empedu
dapat memberikan dampak pada bagian distal, yaitu Ampula Vater, di mana ductus
choledocus dan ductus pancreaticus bergabung sebelum masuk ke duodenum.
Obstruksi aliran empedu oleh batu pada titik kritis ini dapat menyebabkan nyeri
abdomen dan ikterik. Empedu Stagnan di atas sebuah batu yang menyumbat aliran
empedu sering menjadi terinfeksi, dan bakteri dapat menyebar dengan cepat kembali
sistem duktal ke hati dan menyebabkan infeksi yang mengancam jiwa yang disebut ascending cholangitis. Obstruksi ductus
pancreaticus oleh batu empedu dalam ampula Vater juga dapat memicu aktivasi
enzim pencernaan pankreas untuk mencerna pankreas itu sendiri, menyebabkan
pankreatitis akut (Heuman, 1997).
Sumber : Heuman DM, Moore EL, Vlahcevic ZR. Pathogenesis and dissolution of gallstones.
In: Zakim D, Boyer TD, eds. Hepatology: A
Textbook of Liver Disease. 1996. 3rd ed. Philadelphia, Pa: WB Saunders; 1996:376-417.